Pagi itu…aku terbangunkan oleh suara rintik-rintik hujan ketika sang fajar hendak berangkat menuju senja. Walau badan ini masih terlalu kaku untuk digerakkan, karena semalam sepertinya posisi tidurku agak kurang nyaman. Segera bergegas ke halaman depan rumahku menikmati sejenak indahnya suasana di pagi itu.
Udaranya sangat segar…sejuk…suaranya membuat euforia mistis..ditambah bisikan angin yang berhembus, seolah-olah tidak mau kalah dengan alunan musik yang tercipta karena rintikan air hujan yang jatuh. Sejenak kuterlena, dan tanpa disadari membawaku kembali pada keadaan dua tahun silam. Saat dimana hidupku penuh dengan warna, saat dimana kemudahan dan kesenangan sesaat bukan menjadi barang langka dalam setiap hela nafasku.
Dua tahun silam, hidupku seperti begitu mudah untuk dijalani. Segala bentuk keinginan bisa kuperoleh tanpa harus melewati rintangan yang berarti. Percintaan, karier pekerjaan, kuliah, bahkan rencana untuk merajut kehidupan baruku nanti sangat terasa begitu mudah untuk digapai.
Tapi, ada hal yang tidak aku sadari sebagai makhluk Allah yang paling lemah ini. Kehidupanku saat itu benar-benar sangat jauh dengan Allah bahkan keluargaku sendiri. Sibuk dengan urusan keduniaanku saja, tanpa mau melihat ke belakang setelah apa yang Allah berikan kepadaku saat itu.
Tanggal 7 November 2006, adalah momen yang tidak pernah bisa kulupakan sepanjang hidupku kelak. Sebuah titik dalam goresan pena kehidupanku berhenti sejenak, sekedar melihat ke belakang dan mencoba untuk menghapus setiap titiknya agar tidak terlalu jauh untuk kugoreskan kembali.
Pukul 07.30 WIB…pagi itu aku hendak berangkat ke kantor lebih awal. Karena, ada beberapa pekerjaan yang harus aku presentasikan ke klien. Profesiku saat itu menjadi disainer grafis. Aku bekerja di salah satu perusahaan periklanan dari Malaysia yang berada di kawasan SCBD – Jakarta Pusat.
Di perusahaan tersebut aku diposisikan sebagai Pengarah Seni (Art Director). Tepatnya baru 6 bulan aku bekerja di sana. Sebelumnya aku berpindah-pindah dari satu perusahaan kreatif ke perusahaan kreatif lainnya hanya demi memuaskan hasrat karirku semata.
Sejak bekerja dari tahun 2004, aku termasuk salah satu “penggila kerja”, lebih dari 20 jam waktuku sengaja kuhabiskan dengan pekerjaan. Entah kenapa, aku merasa pekerjaanku saat itu telah membuat hidupku begitu nyaman dan penuh warna dalam setiap denting waktunya. Bidang pekerjaanku sangat berbeda dengan bidang-bidang pekerjaan lainnya.
Setiap waktu aku selalu bermain dengan ide, konsep, dan kreatifitas. Memeras otak kiri agar imajinasi-imajinasi yang muncul bisa menghasilkan sebuah karya yang jauh di luar dugaan pada normalnya pikiran manusia. Semuanya terjadi begitu cepat… tidak ada firasat sedikitpun bahwa akan ada kejadian menimpaku pagi itu.
Penglihatanku menjadi gelap, badanku dingin seperti akan membeku, aku tak bisa merasakan apa-apa saat itu, seakan-akan seperti berada di ruang kosong dan tak ada cahaya yang masuk sedikitpun. Rasa takut mulai menyelimutiku. Tiba-tiba, aku mendengar seseorang memanggil namaku.
“Jati..Jati…??” panggilnya. Perlahan kucoba untuk membuka mataku, dan kulihat di hadapanku ada seorang lelaki berumur 40 tahun-an berbaju putih berdiri di depanku. Saat itu aku tidak bisa berpikir jernih. Di benakku hanya bertanya, “Dimana aku sekarang?”
Aku mencium obat-obatan kimia, aku mendengar desisan mesin penyejuk ruangan, dan yang membuatku terkejut saat itu, di sebelah kanan ada alat pengukur detak jantung dan di sebelah kiriku ada tabung oksigen. Mulutku sudah penuh dengan selang-selang, sehingga membuatku merasa sangat tidak nyaman. Hidungku tersambung selang oksigen, dan pada bagian dadaku penuh dengan kabel-kabel kecil yang menempel begitu rapi. Ya Allah…aku baru sadar, sekarang aku sedang berada di rumah sakit. Dan Lelaki berbaju putih di hadapanku tadi adalah dokter.
Apa yang terjadi denganku saat itu, aku terus bertanya-tanya dalam hati. Karena, yang kuingat terakhir aku sedang naik motor menuju ke kantor. Dan aku sama sekali tidak ingat apa-apa saat itu. kebimbangan, kegundahan, campur aduk menjadi satu. Lalu semakin sadar, kalau aku telah ,mengalami musibah dalam perjalanan tadi pagi. Dan aku mencoba menenangkan diriku sendiri bahwa segalanya akan baik-baik saja. Dokter tadi menghampiriku, karena melihatku sudah sadar. Lalu dia mencoba menjelaskan apa yang sedang terjadi pada diriku saat itu.
“Jati..gmn, dah seger?? Kamu sekarang berada di Rumah Sakit Internasional Bintaro, kamu bisa berada di ruang ICU ini karena kamu tadi pagi mengalami kecelakaan yang luar biasa hebat. Kamu mengalami benturan yang sangat keras sehingga membuat 2 ruas tulang punggungmu hancur, tulang pundak sebelah kananmu patah, dan lengan atas kananmu juga. Tapi kamu sudah selesai dioperasi, kurang lebih 9 jam lamanya. Dan Alhamdulillah proses operasi berjalan dengan lancar. Sekarang tinggal pemulihan cederanya saja. Banyak sabar dan tetap yakin yah..!!” jelas dokter itu.
Jujur setelah mendengar penjelasan dari dokter tadi, aku sama sekali tidak bisa ngomong banyak. Lalu aku mencoba untuk menguatkan diri kembali dengan berpikir, kalau cederaku akan segera sembuh secepatnya.
Kembali dokter itu menghampiriku, tapi dia hanya melihat sesekali kakiku dan memijatnya. Ia lalu bertanya, “Jati…apakah kamu merasakan yang saya pijat ini??” (Saat itu dia memijat bagian jempol kakiku). Secara spontan aku bilang “Terasa dok!”, (tapi, tiba-tiba aku merasa ada yang aneh. Ternyata kakiku tidak bisa kurasakan bahkan keduanya tak bisa kugerakkan).
Saat itulah, aku benar-benar mulai putus asa dengan keadaanku. Dan menyakini bahwa cederaku bukanlah cedera biasa. 10 hari telah berlalu…Semenjak operasi itu. Keadaanku tidak ada yang berubah, hanya berbaring dan berbaring di kasur itu tanpa daya. keesokan harinya, aku dipindahkan ke Rumah Sakit Fatmawati untuk menjalani perawatan luka operasi dan fisioterapinya.
Karena, di rumah sakit sebelumnya fasilitas untuk fisioterapi tidak menunjang. Tiga bulan lamanya aku berada di sana. Berusaha untuk melawan sebuah “Garis” yang harusku lewati setitik demi setitik. Mencoba melepaskan bingkai-bingkai fatamorgana hidup dalam sebuah kanvas kenangan masa lalu. Hidupku seperti terpenjara hasrat! Jiwaku terbelenggu ketidak-ikhlasan! Hatiku mati rasa dan tak ingin merasa! Tarikan senyum dan gelak tawaku seolah enggan menemani keputusasaanku. Semua yang pernah ada di sekitarku tak beda jauh dari bayang-bayang ilusi..datang dan pergi meninggalkan hati untuk dicaci.
Penulis : Jati Kusumo
(Contoh Cerita Mini indosiar.com)


