”Ngawur, emang aku cowok apaan…”sembur dia sambil melepaskan pelukannya dari aku. ”Emang sih aku mau numpang rebahan, istirahat dan menyembuyikan dari terik matahari yang membakar tubuh putihku.” kelakar dia, yang aku tahu dia tidak pernah memiliki tubuh putih yang ada yang kayak pantat panci yang dipake masak diatas tungku.
Sangat-sangat hitam n tentunya berseberangan dengan kulitku yang bersih terawat, dan sangat halus bagaikan kain sutera. Walaupun cowok gini aku luluran lho…ups kk aku buka rahasia sihhh. Jadi malu tar dikira cowok ganjen lagi. Tapi itu aku lakukan demi menjaga kesegaran dan kesehatan kulit kok. Dengan kulit sehat terawat khan kualitas hidup kita lebih terjaga dan terjamin, betul nggak frendz? Then, abis bangun dari bobok siang yang menyejukkan dan menyegarkan raga, David temenku berceloteh bahwa dia mau mengajakku ke TOKO BUKU.
Sesuatu yang sangat janggal, tempat yang jarang aku injakkan kaki-kaki ini. ”Gak sedang insane khan kamu? Sini kulihat panas tubuhmu?” Diapun memekik, ”Gak lah, aku sedang waras-warasnya, tapi kamu tahu khan, minggu depan tuh tesnya open book, so aku harus punya buku. Gitu, so aku bisa ngerjain semua soal-soalnya tanpa harus nyontek dari kamu seperti yang sudah-sudah” Dan aku bujuk-bujuk dia untuk menunda niatnya menginjakkan ketempat yang sangat asing, ini aku lakukan soalnya aku ada acara, dan dia harus menemani aku untuk menemui gadis kenalanku tadi pagi, si Shinta. Lagian cari buku khan bisa kapan-kapan ya frendz, lagian khan tesnya baru minggu depan, masih ada seminggu lagi, ga ada perlunya dipikir terlalu serius.
Then, kami pun pergi ke tempat teman baruku. Karena kami gak punya kendaraan, terpaksa deh kami menuju rumahnya dengan angkot. Gak perlu gengsi khan, ga ada deh dalam kamus aku harus pinjem ini-itu untuk tampil lebih dihadapan orang, apa adanya aja, betul ga? Untuk pergi kesana ternyata dibutuhkan perjuangan yang cukup keras, bukan masalah jauhnya, tapi karena untuk sampai kerumahnya perlu lewat jalan tikus, harus melewati gank-gank tak beraturan, emang sih daerahnya cukup bersih n sejuk, tidak seperti perkampungan kumuh di ibukota, tapi kalo banyak gank-gank kecil dan kita tidak pernah kesitu sebelumya kan tetap aja sulit.
Tapi aku tetap berjuang, kutetapkan dalam hatiku harus ketemu, tidak boleh pulang sebelum ketemu, walaupun capek juga harus tanya-tanya, dan aku ga bisa ngandelin temenku David. Dia mending pulang dari pada harus tanya . Prinsip temenku itu, ”Jangan malu-maluin dengan bertanya, jika tersesat di jalan, mending pulang aja.” wah betul-betul prinsip orang dengan semangat nol, setuju?? Sampai juga akhirnya, tak sabar rasanya ingin cepet-cepet masuk dan dikasih minum, dah mbayangin segernya minuman yang disajikan. Gak boleh munafik khan?
Kami dah sangat kehausan dan kepayahan dalam perjuangan kami mencari rumahnya. Kami pun segera mengetuk pintu tanpa basa-basi, dan kebetulan banget yang mbukain Shinta. Sambil mengembangkan senyumnya yang manis dengan lesung pipit di pipinya, dia mempersilakan kami masuk. Dan tanpa basa-basi pula si David menyeletuk, ”Gak usah repot-repot banget mbak, kami disediain es jeruk aja dan sedikit kue aja.” Untung Shintanya baik banget, dia pun bergegas menyajikan minuman yang memuaskan dahaga kami, sueger banget. Kami pun ngobrol ngalor-ngidul dan dari obrolan kami tahu ternyata dia itu ngontrak rumah ama sepupu-sepupunya. Obrolan kami pun sangat asyik, sampai ga terasa sudah larut malam.
Kami pun pamit pulang dan kesialan sudah menunggu kami, angkot ternyata sudah tidak ada, dan kami pun terpaksa berjalan di atas kaki. Perjalanan pulang pun diwarnai dengan penuh nyanyian gerutuan dari mulut temanku. Ya sorry deh Vid, kamu menikmati juga khan lawatan tadi. Sejak pertemuan itu, kami semakin deket dan akrab, dan sampai suatu hati, sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan menyentakku batin dan kepriaanku. ”Wi, aku menyukaimu, mau ga jadi pacarku?” dengan enteng tanpa beban dia menyatakan perasaannya padaku, waduh aku jadi kalang kabut, ooo Allah masah ada cewek nyatain perasaannya padaku sih, gak nyaman banget. Aku pun jadi gugup. Gak pernah kebayang dalam pikiran aku aku akan ditembak cewek, harusnya aku yang nembak cewek untuk jadi pacar aku, tetapi ini lain. Walaupun aku tidak menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tidak bisa diterima, bagi aku itu belum menjadi suatu yang biasa dalam budaya kita.
Tak tahu apa yang harus aku katakan; aku katakan padanya aku perlu waktu untuk memberikan jawaban. Dia pun setuju dan akan menerima apapun jawabanku. Dan hari pun berlalu tanpa halangan dan keceriaan Dalam semalam aku berpikir keras, aku mencoba menanyai diriku apakah aku mencintainya? Apakah aku harus pacaran dengan dia. Dia cantik, tapi tidak ada perasaan khusus di jiwaku. Haruskan aku mengikuti tren, bahwa anak muda harus pacaran? Dan mencoba siapa tahu cinta kan datang. Aku penasaran mungkin orang Jawa benar, ”Witing tresno jalaran saking kulina.” aku pun ga yakin. Dan atas dasar semua itu, atas dasar logika-logika yang masih aku miliki akan membuat suatu keputusan. Besuknya aku menemui dia, dan ku katakan aku tidak bisa menjadi pacarnya, aku hanya akan menjadi sahabatnya, temannya, tidak lebih. Aku tidak mencintainya sebagai lover tetapi sebagai friend.
Penulis : Dwi Suatman
(Contoh Cerita Mini indosiar.com)


