Di kantin itu dia menanyaiku mengenai buku-buku yang kusukai. Sebetulnya aku gak tahu harus ngomong apa, soalnya selama ini aku hanya membaca buku-buku teks pelajaran, bertumpuk-tumpuk buku dari berbagai pengarang yang membahas topik yang sama, sesuatu yang berulang-ulang sampai malah tidak lagi membekas dalam ingatanku..
Tapi sekali-kali aku membaca novel dan buku-buku ringan mengenai psikologi, buku-buku psikologi populer dan ringan tentunya seperti Men are from mars, women are from venus, Chicken Soup for the Soul, dan lain-lain Mendengar kata psikologi hidungnya mengembang seolah-olah mencium sesuatu yang pantas untuk menjadi santapannya. Sesuatu yang akan memuaskan perutnya. ”Gue suka banget buku-buku psikologi terutama karangan Freud, meskipun banyak orang bilang, buku-bukunya saat ini tidak terbukti dan sudah tidak valid lagi dengan kondisi yang ada saat ini. Tapi bagiku buku-bukunya menginspirasi diriku,” celotek dia.
Dia lalu bercerita bahwa dia setuju dengan Freud bahwa seorang anak manusia memiliki bakat untuk menyukai orang tuanya, mempunyai bakat untuk menjadi homo dan lain-lain yang bagi orang awam seperti aku sebagai sesuatu yang ”tidak normal” alias gila.. Sesuatu yang menurutku sangat mengerikan, sangat di luar kaidah-kaidah norma yang kita anut sebagai orang timur yang mempunyai agama, yang mungkin bagi sebagian dari kita itu hanya status saja bukan jiwa kita, banyak jiwa-jiwa yang tidak memiliki agama, hanya badan mereka saja, dan mungkin juga aku, orang yang mereka kira taat agama, selalu berdoa sesuai apa yang diajarkan. Tetapi apakah semua itu cukup untuk menilai seseorang beragama atau tidak.
Keesokan harinya aku menemui temanku, Habib, seorang muslim yang taat dan juga seorang mahasiswa psikologi yang cerdas. Dia bisa memahami ’ketidaknormalan seseorang’ tanpa men-judge orang itu sebagai pendosa, yang patut dihukum dan dikucilkan, bahkan halal untuk dibasmi. Ku katakan padanya bahwa aku tahu setiap orang memiliki kecenderungan untuk berbuat jahat, tapi apakah kejahatan seperti yang digambarkan temenku Gama tidak menakutkan dan pernah terbayangkan dalam diri kita.
Selalu saja aku tidak bisa menerima argumen bahwa kecenderungan itu. Karena hal itu melanggar norma-norma dalam hatiku, norma-norma yang kutelan sejak kecil yang aku tak berani memprotes apakah itu sungguh manusiawai atau tidak. Habib temenku tak pernah membela siapapun karena bagi dia, hidup ini harus dilihat dari berbagai dimensi, tidak hanya satu dimensi yang terkadang hanya akan membuat kita buta. Kami pun bertukar pandangan, mengenai kaca mata-kaca mata yang selama ini aku gunakan untuk memandang sesuatu, dia pun menuturkan setiap elemen logika yang dia pakai dalam melihat suatu hal.
”Wak kenalin ini temanku, Prana.””Hi, aku Dewa.” Dia datang ke kosku membawa temannya itu. Orangnya tampak baik, tampak berpendidikan, cara bicaranya juga sangat sopan seperti kaum-kaum ningrat. Sungguh kesan yang dramatis, bak paranormal dia bisa mencium apa yang aku gundahkan. ”Wak kamu jangan menilai aku dari apa yang kamu lihat ini, aku tidak seperti yang kamu dapat kesan dari pertemuan pertama ini. Aku ini jiwa yang rapuh, jiwa yang selalu terbelenggu, jiwa yang sudah ditaklukkan oleh keadaan.
Keadaan itu telah mengambil alih irama tubuhku, irama jantungku, dan bahkan irama pranaku. Keadaan yang sungguh berbeda dari apa yang namaku maksudkan. Prana yang menghidupi itu tidak lagi menghidupiku, pranaku sudah tidak lagi mengalir dalam nadiku, yang ada dalam tubuhku ini hanya jiwa—jiwa yang kosong, yang sudah tak bisa berevolusi.” ”Maaf, Prana, aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, kamu tampak baik-baik saja, menurutku kamu tampak bahagia, sorot matamu pun tidak memancarkan kekosongan, ketidakbahagiaan. Orang selalu bilang kita selalu akan mendapatkan sebenarnya dari mata. Kata orang bijak bestari mata adalah jendela hati tempat kita mengintip apa yang ada dalam diri seseorang. Dan aku mendapatkan bahwa kamu tidak seperti yang orang bicarakan. Kamu orang yang ”sempurna.”
Waktu pun berlari dengan merayap. Dalam setiap perjalanannya waktu itu telah mempersatukan Prana dan Gama. Dan tidak tahu ada ikatan apa diantara dua keping jiwa itu. Yang aku tahu mereka semakin akrab dan semakin menguatkan Dari hari kehari aku semakin mengerti dan memahami penderitaan batin mereka, kehausan hati mereka. Kekeringan dari semua kebasahan yang ditawarkan oleh semua hujan. Terakhir, ku tahu Gama telah keluar dari agamanya, seluruh keluarganya menangisinya, menyumpah setan yang telah merenggutnya dari mereka.
Tapi dia dengan jelas menegaskan, dia tidak keluar dari jalan Tuhan. Dia masih tetap percaya pada Tuhan, malah dia semakin percaya Tuhan dan akan berusaha mencapainya, dia hanya ingin berjalan dengan nilai-nilai yang dipercayainya, bukan nilai-nilai yang dijejalkan padanya. Dia ingin nilai-nilai yang sesuai dengan kebutuhan jiwanya, sesuai dengan sifat pencernaannya. Dan aku tahu dia memang ”Gama” dia tidak pergi dari Tuhan. Dan disini aku tak pernah tahu apa yang aku inginkan, aku hanya seperti makluh-makluh lain yang ingin disebut agamis, religius dan dia adalah seorang ”AGNOTIS”.
Penulis : Dwi Suatman
(Contoh Cerita Mini indosiar.com)



butuh lebih dari sekali untuk memahami jalan ceritanya… mungkin karena terlalu banyak pengeditan ya pak??
mengenai Gama yang akhirnya memutuskan untuk Agnotis sebagai jalan hidupnya..
butuh lebih dari sekali untuk memahami jalan ceritanya… mungkin karena terlalu banyak pengeditan ya pak??
mengenai Gama yang akhirnya memutuskan untuk Agnotis sebagai jalan hidupnya..
apiikkk..bener2 hidup itu kita harus melihat dari berbagai dimensi..:)
critanya bagusss….
good works…
Hmm…..
Penasaran juga aku…