“Semua akar agamaku telah tercabut, Wak!!!” Saat itu untuk pertama kalinya aku melihat dan mendengar dia tersedu-sedu menahan tangis yang tidak bisa ditahannya. Aku bisa memahami dia, apa yang dirasakannya, apa yang menjadi beban hatinya. Bagaimana orang akan menilainya.
Dalam otakku berkelebat bahwa orang-orang akan menilainya sebagai orang yang tersesat, orang yang telah memalingkan wajahnya dari jalan kebenaran menuju Tuhan. Mereka akan mengutukinya atau orang yang paling baik akan berusaha menyadarkannya, mencoba menariknya kembali ke arah jalan yang benar, setidaknya menurut mereka.
Tapi kawanku yang ini menuturkan bahwa dia sepenuhnya sadar apa yang terjadi padanya. Sesadar bahwa esuk hari masih ada mentari yang akan terbit dari ufuk timur. Sejak pertama kali aku bercakap dengannya, aku sudah bisa menerka bahwa lelaki ini orang yang terlalu pemikir, mirip dengan filsuf, tapi bukan. ”Kalo kamu suka berpikir dengan cara orang kebanyakan tidak pahami, kenapa kamu tidak masuk filsafat saja.” Dengan nada datar dia menjawab,”Gue terlalu berbakat dan pintar untuk hal tersebut, tidak mau menjadi yang terpintar disana.
Elho tahu, geu tidak pernah ingin menjadi yang ter-. Gue hanya ingin menjadi orang yang tidak populer. Gue hanya ingin menjadi seperti kamu, Wak, orang yang tidak populer dan orang yang tak terlalu memedulikan apa yang orang pikirkan tentangmu. Kamu hidup dalam nilai-nilai yang kau buat sendiri.” ”Tunggu dulu, aku tidak pernah hidup dengan nilai-nilai yang aku buat sendiri. Aku hidup dengan apa yang diajarkan padaku, dengan penafsiranku sendiri. Ini yang harus ditekankan”.
”Tetap dalam otakku telah tertanam bahwa kamu orang yang hidup dengan nilai-nilai yang orang lain hanya pikirkan, tetapi tidak pernah mereka lakukan.” Ku tuturkan kepadanya bahwa aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri, aku mencoba mencari kenyamanan dalam diriku sendiri, setidaknya itulah yang sering diajarkan padaku.
Mereka selalu mengatakan, carilah kebahagiaan dalam dirimu, sebab tidak ada kebahagiaan di luar sana, segala kenyamanan selalu datang dari hati kita, maka kita harus masuk kedalam hati kita, ke dalam diri kita sendiri kalo ingin bahagia. Ajaran yang sesungguhnya tidak pernah aku mengerti dan pahami, dan tidak pernah aku lakukan, karena menurutku aku akan bahagia jika aku tidak menipu diriku, jika aku tidak munafik pada diriku.
Sesuatu yang lumrah yang orang lakukan untuk membuat diri mereka tampak menyenangkan. Tampak seorang pribadi yang baik, pemurah, sopan, berkelas dan berpengetahuan tinggi. ”Aku memang tidak berhak menilai mereka sebagai munafik, tapi itu yang aku pikirkan. Untuk tidak melukainya, aku tidak pernah mengatakan apa yang kupikirkan walaupun sebenarnya aku ingin sekali memberitahu mereka.” Fakta inilah yang menyatakan bahwa aku juga termasuk orang yang munafik, tidak jujur terhadap dirinya sendiri, tapi betulkah aku sungguh munafik, hanya karena aku tidak mau menyinggung mereka? Siang itu, Gama menghampiriku, mengajakku makan siang bareng.
Sesuatu yang gak pernah dia lakukan sebelumnya. Karena walaupun sudah kuliah, dia tidak pernah makan sembarangan, selalu membawa bekal dari rumah mulai dari minum, snack, sampai makan besar.
Mungkin banyak orang menilainya seperti anak kecil, anak mama, masih mbok-mboken orang Jawa bilang, sebagai anak lelaki yang sudah kuliah, dia masih harus membawa bekal ke kuliah. Untungnya banyak juga yang berpendapat bahwa itu merupakan kebiasaan baik, dan tidak mencerminkan tingkat kedewasaan seseorang, karena memang tidak pernah ada bukti empirik yang menyatakan bahwa anak kuliah yang membawa bekal ke kampus sebagai anak yang masih kekanak-kanakan, masih lekat dengan maminya. Dan bagiku itu semua gak penting, tidak mempunyai nilai untuk dibicarakan. itu hanya masalah kebiasaan seorang anak manusia.
Penulis : Dwi Suatman
(Contoh Cerita Mini indosiar.com)



dalem….
Lanjutin dong,,, nanggung amat, mas…. hehehehe
Dalem.. Susah bgt masuknya…:-) Good good…
only one word…
GREAT…..
^^P