Apakah inferiority complex telah menghampiriku tanpa kata, tanpa suara dalam rentang frekuensi yang dapat tertangkap oleh indera dengarku. Untaian kata-kata bertaring tajam itu telah mencengkeram lekat dalam batok kepalaku, segala jurus dan gaya telah a
Apakah inferiority complex telah menghampiriku tanpa kata, tanpa suara dalam rentang frekuensi yang dapat tertangkap oleh indera dengarku. Untaian kata-kata bertaring tajam itu telah mencengkeram lekat dalam batok kepalaku, segala jurus dan gaya telah aku rapalkan untuk membumihanguskan racunnya. Namun, segala dayaku bak rengkuhan bayi yang mencoba memindahkan truk tronton, tak bergeming semili pun. Sungguh merontohkan segala prinsip dan kekokohan yang selama ini telah bersarang dalam naluriku.
Pancaran auraku meredup, mengaburkan pesonaku, melunturkan karisma yang telah aku alteko-kan dalam sukma dan ragaku. Kini, hidupku bergempa-bergoyang tanpa pondasi dengan akar tunggang yang menusuk bumi.
”I get to go Pren, harus menemui sekeping nyawa yang bersarang dalam tubuh, yang kita kenal sebagai perempuan.” Sepotong pesan yang ku tatahkan dalam dinding itu sukses merenggut jiwa-jiwa penasaran akan kenyataan yang mendatangi sahabatnya. Dalam hitamnya malam, dalam siangnya burung-burung hantu, jiwa-jiwa penasaran itu melesat, menembus tembok-tembok peraduanku. Jiwa-jiwa itu mengguncang sesosok badan terbujur dengan seribu satu saraf yang telah terserap dalam sumsum nadi menjadi satu, mencapai kenyataan tanpa kesadaran.
Karena serangan gencar yang mereka lontarkan, aku terjaga juga dari alam kenikmatan itu, “Duh, ngapain sih kalian malam-malam kesini, ini tu waktunya orang tidur, kalian emang mirip hantu-hantu kelaparan yang sedang mencari mangsa untuk dibuat mati berdiri.” Igauku dalam keadaan masih terbujur dengan mata masih terbungkus kelopak
Dengan lengan-lengan kokoh, mereka merampas buah surga malamku, menjerambakanku ke dalam dekapan bekunya gelap. Terduduk aku dalam diperut ranjang, masih terbuai oleh dekapan dan nyanyian malam. Tetapi, syaraf-syaraf tubuhku mulai terjaga, meregang, dan bersatu dengan otak, menciptakan jalinan asmara yang sempat tertidur, tapi mereka telah menyatu dan membawaku ke dalam alam kasat mata.
“Yon, Dion, elho udah sadar khan, tahu nggak kami mau menginterogasi you, masah sih elho ga mau cerita ama sahabat-sahabatmu ini. Kami khan best friends mu. Tapi kok elho gitu sih. Nggak mau crita-crita.” “Crita apa, ga ada kok yang aku sembunyikan dari kalian.” kataku dengan muka dilipat, hatiku terasa mau meledak, berisi amunisi-amunisi kemurkaan yang mereka pompakan bersama dengan polah mereka yang tidak pernah dewasa, bergerak atas dasar instink, kapasitas otak mereka tidak pernah terpakai. Namun, mereka sahabat-sahabatku, yang telah mengisi ruang-ruang kehidupanku, yang telah menyalakan api kehidupanku, yang telah menghapuskan dahaga dengan embun pagi mereka.
Wajah-wajah mereka telah membuat duniaku tertawa. dan saat ini aku memang harus berdamai dengan jiwa-jiwa ini. Dengan sekuat hati aku melipat kelopak mataku, dan dengan desahan nafas panjang aku bersungut-sungut,” Kalian kesini lantaran ingin mengorek keterangan akan perubahan-perubahan yang terjadi dalam jiwaku ini khan, yang dulu tak pernah sekalipun aku menulis sesuatu yang puitis, yang selalu bicara dengan kalimat lugas, jelas dan singkat, yang selalu menggunakan kata-kata tak bertafsiran ganda, kata-kata denotatif.” Tak aku teruskan karena nafas telah menipis di rongga paru-paruku, membuatku tersengal-sengal seakan sukmaku meronta-ronta ingin meninggalkan jasad.
“Instingmu kuat juga Dion.Tahu aza elho. Elho emang beda kok akhir-akhir ini, selama ini elho itu kaku, formal, dan selalu beribicara seperti berpidato. Tapi, sekarang kamu bisa menulis puitis, romantis, dan kami yakin elho telah terjerat benang-benang asmara.” ”Mungkin kalian benar tapi juga mungkin kalian salah. Aku tidak tahu perasaan yang melanda hatiku ini. Ruwet sekali gulungan benang yang menjeratku itu, sukar sekali aku buka simpul-simpulnya, dimana ujung dan pangkalnya. Aku sudah mengerahkan segala logika berpikirku, tapi seakan semuanya mental.” Salah seorang sahabatku berucap, Deden, seorang anak manusia yang berprinsip semakin cepat kita bersatu dengan setengah jiwa kita, semakin baiklah keadaannya, tapi terkadang aku berpikir setengah-setengah jiwa itu potongan-potongan jiwa lain yang bukan bagian dari yang ada dalam tubuhku. Kita harus jeli memilihnya sejeli ibu-ibu berbelanja. ”Yon, elho emang sungguh sungguh vol in lop. Gue sering mengalaminya.
Seakan-akan tubuh ini tidak menyatu dengan jiwa. Seolah hati tidak mau berdamai dengan logika, seakan tubuh ini mencueki alam ini, seakan makanan tak lagi bisa memberikan kita energi.” ”Stop, jangan tambahkan sepotong fonem pun dalam kalimat-kalimatmu, semakin kau berkata-semakin aku kehilangan kata. Mungkin yang kalian katakan benar, tapi bagaimanapun aku masih seorang lelaki yang harus menggunakan logika, menggunakan kepalanya dalam setiap tindakan. Disini pun harus begitu. Aku harus tahu, apakah aku hanya menyukainya, aku menyayanginya, aku mengasihinya, aatu aku mencintainya. Aku harus memecahkan misteri ini dulu. Aku harus mencari kata yang tepat untuk menggambarkan dilema yang aku rasakan ini.”
Penulis : Dwi Suatman
(Contoh Cerita Mini indosiar.com)



keep posting gan!!
Nice…:-) Ditunggu kelanjutannya..
wah… bagus wi, pemilihan katanya canggih dan kayaknya si dion ini mahasiswa sastra ya? hahaha, top markotop
Keren, Dwi… pemilihan kata-katanya bener2 mencerminkan anak sastra. He3x.
What a wonderful story … …I love this bro … so well-selected words within…