“Aku mencintaimu , bisikku ke telinganya. Sejak peristiwa beberapa tahun yang lalu, ketika ia mengatakan cintanya kepadaku di sebuah sungai kecil di dekat sekolahku, sejak saat itu aku merasa hidupku dan hari-hariku berubah drastis.
Ia, Zoss, kekasih dan pujaan hatiku yang selama ini kuimpi-impikan, seorang malaikat yang melindungiku, sesosok bintang yang menerangi kegelapanku, sungguh kusangat memujanya. Sudah satu setengah tahun aku dan Zoss melalui hari-hari saat berdua, akhirnya masa SMA pun selesai. Aku berjuang untuk mendapatkan cita-citaku dan begitupun Zoss.
“Na, maafkan Zoss, Zoss berhasil masuk ke salah satu universitas di Bandung. Zoss harus berangkat…,” sahutnya dalam keheninganku.
Saat itu aku merasa kalau aku akan segera kehilangan Zoss. Ingin rasanya aku memaksanya untuk tidak pergi ke sana.
“Zoss, apa tidak ada pilihan lain?” dengan sedih aku mengatakannya.
“Maafkan Zoss, Na. Ini semua demi impian Zoss. Na mau kalau Zoss nantinya enggak sukses. Na, mau kalau Zoss….” Zoss tidak sanggup lagi mengatakan kalimat selanjutnya.
Aku menganggukkan kepalaku. Sejenak kuberpikir, apa salahnya aku harus mengalah untuk beberapa tahun saja. Toh ini semua demi impian Zoss, demi cita-cita Zoss, aku harus merelakannya. Enggak mungkin aku egois, aku sayang sama Zoss, mana mungkin aku menghancurkan masa depannya. Toh juga masih ada hal yang bisa membuat kami seperti dulu dan sekarang ini, masih ada ponsel, e-mail, dan juga pos. Akhirnya aku merelakan dia, membiarkan kepergian Zoss.
Sejak keberangkatan Zoss beberapa minggu yang lalu, setiap hari ponselku terus berdering dan setiap kali itu pula aku melonjak kegirangan. Aku tahu ini pasti dari Zoss. Aku rindu dengan dirinya, wajahnya, senyum manisnya dan genggaman tangannya. Aku rindu akan saat-saat kami bersama.
Saat aku tak tahan rasa rindu ini, aku menjerit sekencang-kencangnya di kamarku, aku membungkam mulutku dengan bantal dan gulingku, aku memeluk dan mencium boneka kelinci berwarna kuning yang pernah Zoss kirimkan via pos saat ulang tahunku. Oh Tuhan, kalau aku begini terus aku tak mampu bertahan yang di pikiranku hanyalah Zoss, Zoss, dan Zoss.
Hampir setahun aku menjalani hubungan ini tanpa melihat sosoknya. Suatu hari aku tak mampu bertahan lagi. Aku telah rapuh. Aku mencoba menghubunginya.
“Zoss, Na enggak sanggup lagi menjalani ini semua . Na mau kita break dulu untuk sementara waktu sampai Na sudah terbiasa lagi seperti dulu, sampai Na merasa siap lagi,” isakku kepadanya melalui telepon.
Dengan berat hati Zoss mengiyakan permintaanku. Walaupun begitu aku dan Zoss tetap saling menjaga komunikasi, hubungan di antara kami saat ini adalah teman. Setelah sekian lama waktu berlalu sejak saat itu, sejak saat kami tidak menjalin asmara lagi, entah kenapa hatiku begitu damai. Aku tidak pernah merasakan seperti dulu, hasrat ingin bersamanya. Rasanya hati ini begitu biasa saja, sama dengan saat aku dengan teman-temanku yang lainnya.
Suatu saat aku mendengar bahwa Zoss telah memiliki wanita yang baru. Aku terkejut sekali. Zoss telah menghianatiku. Zoss telah mempermainkanku. Aku benci Zoss. Aku sangat benci Zoss. Secepat itu Zoss telah melupakanku, melupakan kenangan kami saat berdua dulu, segampang itu Zoss meninggalkanku. Yah…aku sadar, walaupun kami sekarang cuman teman, tapi jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku masih sangat mencintai Zoss. Aku mencoba agar diriku dapat tegar menghadapi semua ini. Lagi-lagi aku tidak boleh egois. Memang aku yang salah. Kenapa dulu aku membiarkan Zoss sendirian di sana. Kenapa aku memutuskan Zoss. Aku tahu kalau Zoss pasti merasa kesepian sekali, sehingga Zoss mencari penggantiku, orang yang bisa dekat dan masuk ke dalam hatinya.
Tapi walaupun begitu aku dan Zoss tetap saling berkomunikasi. Begitu juga aku dan pacarnya. Kami saling membina hubungan yang sangat baik. Aku menghargai kekasih Zoss. Sama sekali aku enggak pernah berpikir kalau kekasih Zoss sekarang adalah musuhku. Aku juga menghargai keputusan Zoss.
Aku harus bersikap lebih dewasa dan siap untuk mengalah. Toh ini semua sudah merupakan akhir dari pilihan Zoss sendiri. Pilihan Zoss merupakan kebahagiaan buatnya dan aku rela melakukan ini semua untuk Zoss walaupun aku tahu ini rasanya akan sakit sekali.
Suatu hari timbul suatu masalah berat diantara kami bertiga, sampai sekarang pun aku tak tahu jelas apa sebab dan alasan dari semua pertengkaran ini. Tiba-tiba saja mereka memojokiku. Mereka menghinaku. Mereka mengatakanku bukanlah seorang manusia yang selayaknya. Mengatakanku cewek yang mana bisa kuartikan sendiri ‘gampangan’. Entah apa yang telah terjadi di sana. Mereka mengatakanku kalau aku punya maksud tersembunyi di balik kebaikanku selama ini dengan kekasih Zoss. Padahal sama sekali enggak pernah terbesit dalam pikiranku untuk mengambil Zoss dari dirinya. Aku hanya menganggap Zoss hanyalah teman. Gak lebih. Aku gak pernah berharap sesuatu yang lebih dari Zoss lagi.
Tapi entah kenapa kekasih Zoss mengatakanku kalau aku penyebab mereka sering berantam selama ini, alasan yang membuat mereka sering bertengkar. Padahal sama sekali aku tidak melakukan hal apa-apa terhadap Zoss. Aku sudah berperilaku selayaknya teman. Tapi kenapa wanita itu mencurigaiku. Aku menangis. Seminggu sebelum peristiwa ini, aku dan Zoss masih bersenda gurau melalui telepon. Tapi kenapa semuanya begitu cepat berubah. Aku pun membela diriku. Aku kembali membalas untuk menghina Zoss. Memaki Zoss. Sebenarnya aku sungguh ingin menangis saat mengatakan hal itu pada Zoss. Dan bahkan tiap kali aku mengingat hal itu, aku merasa sungguh menyesal. Andai saja omongan itu dapat kutarik kembali, aku pasti tak merasakan penyesalan yang bertubi-tubi ini.
Aku enggak kuat menghadapi ini semua. Dan saat aku menceritakan peristiwa ini ke teman-temen aku dan Zoss dulu, entah kenapa aku ingin sekali langsung berjumpa dengan Zoss dan meminta suatu penjelasan yang dapat kuterima dari ini semua. Karena sampai sekarang, aku belum terbangun dari mimpiku. Aku tidak bisa benci kepada Zoss. Semakin aku ingin melupakan Zoss dan semua kenangan kami yang sudah terlewati, semakin itu pula aku menyayangi Zoss. Arrggghhh….aku benci dengan diriku sendiri. Kenapa aku bisa diperbudak oleh cinta. Oleh dirinya. Padahal Zoss sudah enak-enakan dengan kekasihnya yang baru disana, sementara aku di sini terbuai oleh cintanya dan menunggu penjelasan itu datang. Mau sampai kapan aku harus bertahan seperti ini.
Sementara itu waktu terus berlalu. Perlahan-lahan aku mencoba melupakan peristiwa itu. Aku bersujud di hadapan Yang Maha Kuasa, Ya Tuhan, beri aku kekuatan untuk dapat melupakan peristiwa itu. Setiap hari di dalam doaku, tak lupa aku meminta ini semua. Aku telah menutup diriku untuk orang lain. Untuk saat ini dan aku enggak tahu sampai kapan aku belum bisa mengisi ruang hatiku dengan sesosok pria yang baru, karena hatiku masih tersayat.
Saat pertengkaran itu terjadi, orangtuaku sempat mendengar sebagian dari omonganku. Mereka begitu terkejut. Mereka yang selama ini kenal dengan seorang pemuda yang berparas baik dan sopan tiba-tiba berubah dan menghina anaknya. Dan baru-baru ini, mamaku baru saja pensiun dalam masa kerjanya. Aku bingung. Aku sungguh kecewa. Bapakku sudah lama pensiun. Kira-kira 8 tahun yang lalu. Selama ini kami hanya berbekal dari uang pensiunan Bapak, dan dibantu sedikit dari Mama, Tapi bagaimana untuk hari esok. Siapa lagi yang dapat membantu kami. Sementara adik-adikku masih banyak yang sekolah. Sementara aku juga sedang menghadapi kuliah di tingkat teratas. Pastinya kami sangat membutuhkan dana. Siapa lagi yang dapat membantu kami.
Sejenak aku berpikir, kenapa aku harus lagi memikirkan Zoss. Lelaki yang sudah enggak peduli lagi dengan aku. Kenapa aku selama ini tidak pernah membuka mataku, kalau selama ini masih ada orang tua yang masih sangat sayang padaku. Aku enggak ingin mengecewakan orangtuaku. Aku ingin memberikan sesuatu yang terbaik kepada mereka. Walaupun aku tak mampu memberikan mereka sedikit uang untuk menghidupi keluarga kami, tapi aku yakin dengan membuat diriku berharga dimata mereka, mereka pasti bangga padaku.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk memulai segala sesuatunya dari awal kembali. Menata lembaran baru. Mengembalikan diriku kembali jauh sebelum aku mengenal Zoss. Aku ingin mewujudkan impianku. Menggapai bintang yang telah diciptakan hanya untukku. Menelusuri jalan yang telah dipersiapkan bagiku, mengejar harapanku dan cita-citaku. Yang harus aku lakukan sekarang ini adalah kembali ke tujuanku. Aku harus fokus terhadap kuliahku. Masa depanku. Aku enggak ingin diinjak-injak lagi. Aku enggak mau harga diriku dikoyak lagi dan aku enggak mau dilecehkan oleh wanita itu lagi.
Dengan bantuan Tuhan, akhirnya aku mulai dapat membanggakan diri sekarang. Setelah hampir setengah tahun pertengkaran itu terjadi, aku dapat kembali ke keadaanku semula. Aku meraih sebagian dari impianku. Prestasiku dikampus bagus. Aku mendapat angka Indeks Prestasi (IP) yang bagiku ini merupakan suatu perubahan yang besar. Angka yang sangat memuaskan. Aku dapat aktif di berbagai kegiatan-kegiatan organisasi. Dapat mengikuti berbagai kursus. Mengelola semua mata kuliahku dengan baik, hingga akhirnya aku akan segera menyelesaikan risetku dan menjalani Kerja Praktekku (KP).
Makasih Tuhan, Kau jadikanku seperti sekarang ini. Terima kasih atas masa lalu itu. Karena dari masa lalu itu, aku dapat berjuang mempertahankan harga diriku, memperjuangkan hidupku agar tidak terperosok lagi dalam lembah kepahitan itu dan akan segera memperjuangkan masa depanku. Akhirnya aku mendapat sebagian dari target awalku. Dan sekarang satu hal yang ingin dan harus kucapai, aku harus berjuang untuk meyelesaikan kuliahku. Aku bermimpi suatu saat aku bisa melanjutkan kuliahku ke jenjang berikutnya di luar negeri, karena aku yakin aku pasti bisa menggapai itu semua. Karena baru-baru ini aku lulus mengikuti suatu babak penyisihan hingga tahap interview untuk beasiswa ke Amerika Serikat, hanya saja aku belum beruntung.
Penulis : Rina
(Contoh Cerita Mini indosiar.com)


