Malam menunjukkan pukul 21.00 waktu Indonesia bagian barat, jam besar di ruang tengah berdentang memecah hening malam, ” Teng….teng….teng….”, tepat sembilan kali berdentang, tidak lebih dan tidak kurang, selalu tepat, sembilan kali berdetang setiap dua kali sehari. Berbeda dengan Ibu yang tidak penah pulang tepat waktu usai jam kerja.
Teman-teman bilang ibunya malah sudah di rumah sebelum jam kantor usai. Kok bisa ya…… kenapa Ibuku tidak bisa? Selalu pulang terlambat satu hingga tiga jam setelah jam kantor usai. Kalau jam kantor usai pukul 17.00, seharusnya ibu paling lambat sudah di rumah pukul 18.00 wib. Pokoknya dalam sebulan, tidak lebih dari jumlah jari tanganku, Ibu ada di rumah pukul 18.00 wib. Selebihnya Ibu baru di rumah diatas pukul 20.00 wib.
Pernah suatu kali –setelah makan malam- aku tanyakan kepada Ibu, ”Bu……mengapa sejak kehadiran Syifa, ibu seringkali pulang malam?”. Ibu menjawab dengan senyum khasnya dan mengatakan: ”Sayang…..Ibu selalu ingin pulang tepat waktu, dan kalau boleh Ibu ingin tinggal di rumah mengurus kalian -mas Harry, kamu dan adikmu- namun semua itu tidak mungkin ibu lakukan, ibu merasa begitu banyak yang harus ibu lakukan untuk kalian, khususnya untuk Syifa adikmu. Gini aja deh…..besok kan hari libur….Ibu sudah merencanakan ’cuci mata’ denganmu, kita berdua aja…..Ibu ingin berbagi denganmu”.
Semalaman terngiang kata-kata ibu ’berbagi denganmu’, ”Ibu mau bagi apa ya… sama aku……kok tumben…..apa sih … yang mau dibagi ke aku…”, hingga terlelap tak kutemukan jawabannya.
Aku bangun kesiangan gara-gara semalam sulit tidur memikirkan kata-kata Ibu. Aku berjalan menuju kamar ibu dengan harapan mendapat sesuatu sebagai jawaban kata ’berbagi denganmu’, namun yang kudapati hanya kamar besar yang kosong dan sudah tersusun rapih. ”Bi……Ibu kemana……” tanyaku kepada bi Yati. ”Ibu sudah pergi ke pasar tadi Nin…..kenapa?” Tanya bibi. ”Ndak….papa” jawabku. ”Bi….tadi Ibu ndak pesan-apa-apa buatku, dan jam berapa ibu pulang” tanyaku dengan rasa harap-harap cemas dan kecewa.
Berharap ada titipan sesuatu untukku dan kecewa Ibu sudah pergi pagi-pagi dan khawatir perginya lama, sehingga acara ’cuci mata’ yang dijanjikan kepadaku bisa gagal. ”Tadi Ibu ada titip …………..” belum habis kata-kata bibi Yati, aku sudah memotongnya. ”Mana bi…mana bi….titipan Ibu untukku….”
Aku sudah senaannng bangt akan dapat sesuatu untukkua……”Nin…Ibu tadi titip pesan sama bi Yati….bukan titip barang……Kata Ibu….kalau Nina sudah bangun agar segera mandi, jadi nanti Ibu pulang dari pasar, bisa langsung jalan sama Nina…..”. ”Ohhhhh gitu…..gr aku…..kirain Ibu titipin sesuatu buat aku…..Ya sudah….aku mau mandi ya bi…..adik Syifa sudah mandi belummm, yuukkk mandi bareng…..” ”Adik Syifa sudah mandi Nin…., sekarang mau makan” kata bibi. Aku lihat adik Syifa sedang memegang tas sekolahku dan dengan susah payah di gantungkannya tali tas ke pundaknya. Aku berlari merebut tasku dan membawanya ke kamarku.
Tak kupedulikan tangis adikku yang memecah ruang keluarga. Sementara bi Yati sibuk membujuk adikku. Aku melintas ruang keluarga menuju kamar mandi sambil mencibirkan bibir ke arah adikku. Tangisnya pun semakin menjadi. Tanpa peduli aku masuk ke kamar mandi, puas rasanya mengganggu adikku, salah satu kebiasaanku yang baru semenjak aku memiliki adik. Sambil mandi aku masih melamunkan apa kira-kira yang akan ibu ”bagi” kepadaku…..
Selesai mandi, aku duduk di meja makan untuk sarapan pagi, sedang asik menikmati nasi goreng bikinan bi Nah, aku mendengar suara mobil memasuki garasi. Nah…tuh Ibu sudah pulang…. Aku berlari ke garasi dan melihat Ayah dan Ibu sedang menurunkan belanja-an. ”Bu…mana yang Ibu mau bagi sama aku…..”. Ibu mengerti maksudku dan tersenyum, ”Sabar dong sayang……, Ibu mandi dulu sebentar, nanti kita ’cuci mata’, sambil memberikan yang mau ibu bagi buatmu”.
Kami sudah di mobil setelah berpamitan dengan Ayah, Mas Harry dan dik Syifa. Asyik juga pergi berdua saja….dan aku senang sekali. Semua perhatian ibu tercurah untukku, tak ada Ayah yang meminta perhatian Ibu, tak ada Mas Harry yang senang menggodaku, tak ada adik Syifa yang merengek minta gendong Ibu, hari ini Ibu hanya milikku. ”Kemana kita Nin…..” tanya ibu membuyarkan lamunanku. Sambil menyetir mobil Ibu terus bertanya kemana tujuan kita, sedangkan aku sibuk memikirkan apa yang akan Ibu ’bagi’ untukku. ”Terserah Ibu aja deh…..kataku, kan Ibu tahu apa yang Nina inginkan…..” Ibu tersenyum mendengar jawabanku.
”Gimana kalau kita ketempat favorit kita, tempat yang teduh dikelilingi kebun yang cantik dengan hidangan ringan yang lezat……Ingat terakhir kita ke sana….ketika Nina mengatakan kepada Ibu ingin adik?” Lagi-lagi Ibu membuyarkan lamunanku tentang apa yang akan ibu ’bagi’ kepadaku. ”Tapi disitu kan ndak ada orang jualan Bu……, katanya Ibu ingin ’berbagi’ sama Nina?”. Mendengar kata-kataku Ibu lagi-lagi tersenyum dan menjawab…….”Ya… memang betul disana ndak ada orang jualan, lagi pula Ibu kan ingin ’berbagi’ hati denganmu Nin……, Ibu ingin berbicara antara dua orang perempuan dewasa denganmu”.
Kata Ibu sambil terus menyetir menuju tempat favorit kami. Sekarang aku mengerti maksud Ibu, namun tak urung hal ini membuatku cemberut……..Kami duduk berhadapan di tempat favorit kami. Aku masih cemberut dan Ibu membujukku dengan segelas juice Strawbery kesukaanku. Kulihat ibu meneguk capuchino kesukaannya dan mulai ‘berbagi’ dengan ku. “Ditempat ini dua tahun yang lalu, kamu mengatakan kepada Ibu bahwa kamu sering berdo’a dan ingin memiliki adik, dan Alhamdulillah Allah memberikan adik kecil yang lucu kepadamu, kepada kita, kepada keluarga kita. Ibu yakin kamu sayang kepada adikmu, sekalipun ibu sering melihatmu mengganggunya hingga ia menangis. Kehadiran adik Syifa memberikan warna yang berbeda kepada keluarga kita.
Ibu jadi agak sering pulang malam semenjak kelahiran adik Syifa, kenapa? karena ibu ingin mengetahui sebanyak mungkin informasi mengenai adik Syifa dan melakukan komunikasi melalui e-mail dengan para orang tua di seluruh dunia yang memiliki anak seperti adik Syifa dan hal itu hanya dapat ibu lakukan di luar jam kerja agar tidak menggangu pekerjaan ibu. “Kenapa dengan adik Syifa Bu…..informasi apa yang ibu cari mengenai adik Syifa?” Tanyaku mendesak. “Syifa lahir dengan membawa satu Chromosome lebih banyak dari orang pada umumnya, bila orang pada umumnya lahir dengan membawa 46 Chromosome yang berpasang-pasangan, maka adik Syifa membawa 47 Choromosom yang mana pada Chromosome No. 21 terdiri dari 3 Chromosom.
Dalam bahasa medis disebut juga dengan Trisomy 21”. Aku kebingungan mendengar penjelasan Ibu dan mulai menangis…..”Jadi adik Syifa sakit ya Bu…., Tolong sembuhkan adik Syifa Bu….jangan biarkan adik Syifa sakit Bu……nanti Ibu juga bisa pakai uang tabunganku untuk membawa adik Syifa ke dokter yang paling bagus di dunia ya…..Aku ndak usah dibelikan apa-apa mulai hari ini ya Bu…..uangnya di kumpulkan saja untuk berobat adik Syifa…..Aku ndak mau ada apa-apa sama adik Syifa….nanti siapa yang menemani aku Bu…..tolong Bu…..”. Pecahlah tangisku dan Ibu semakin erat memelukku. Aku tidak lagi peduli pada orang-orang di sekitarku………”Cup….cup….sayang…..adik Syifa tidak sakit, Ia sama sehatnya dengan mbak Nina. Keadaan seperti adik Syifa disebut dengan Down Syndrome, karena yang pertama kali dapat menjelaskan keadaan tersebut adalah Dr Langdon Down.
Down Syndrome bukan penyakit namun tidak ada obat yang dapat menghilangkan satu Chromosome yang lebih tersebut, karena kelebihan satu Chromosome tersebut berada di seluruh tubuhnya, yang memberikan pengaruh kepada kemampuannya yang tidak sama dengan orang dengan jumlah Chromosomenya 46….
Penulis : Bekti Prawidyarini
(Contoh Cerita Mini indosiar.com)



Dear all,
Terima kasih telah memuat cerita ini, yang merupakan cerita orisinil, dengan nama-nama tokoh juga orisinil.
Cerita ini sangat berarti bagi saya karena:
- cerita ini benar-benar terjadi dan bila menjadi cerita terfavorit atau pun tidak, cerita ini akan menjadi pengingat bagi si kakak mengenai sikapnya kepada adiknya.
- cerita ini juga mengandung unsur sosialisasi mengenai Down Syndrome, dimana lebih dari 300 ribu anak-anak Indonesia lahir dengan Down Syndrome.
- Cerita ini juga mengandung pengharapan bahwa anak-anak dengan Down Syndrome mendapat tempat yang sama dengan anak-anak lainnya, dipandang sama dan tidak aneh, tidak dikucilkan karena sama sekali bukan penyakit menular…
- Cerita ini juga mengandung pengharapan untuk dapat di buatkan sinetron mini, mengenai anak-anak dengan down syndrome, sehingga masyarkat mendapat sosialiasi dengan baik, bagaimana memperlakukan mereka yang sesungguhnya mempunyai kemampuan dan perasaan yang sama dengan anak-anak lainnya.
Semoga Allah mendengarkan pengharapan ini.
salam
Rini
saya sangat setuju dgn pendapat rini orang dgn trisomi 21 harusnya diperlakuan sama dgn anak normalnya jgn dikucilkan dan diperlakukan aneh
hmm… cerita yabg bagus
adik saya juga down syndrome loh