Aku menyusuri panasnya aspal menuju perempatan Adi Sucipto, Solo seorang diri. Kutengok jam digital di HP-ku menunjukkan jam sebelasan lewat. Aku tak peduli menit keberapa dari jam sebelas Karena harus segera menyeberang ke kanan menuju Manahan.
Ternyata jauh juga dari halte ke pom bensin, nggak mengapa daripada harus mendengar omelan kondektur bus soalnya aku tidak tahu nama tempat dimana aku harus berhenti. Aku cuma enggak ingin merusak mood-ku hari ini. Semangat!!!
Adlia, temanku tadi mengirim SMS dan aku menjawabnya dengan meneleponnya bahwa aku masih dalam perjalanan, sedang dia bersama temannya yang juga dari Yogya sudah sampai, mereka ke salon dulu untuk make-up.
Teman istimewaku yang bernama Adlia ini aku kenal beberapa hari yang lalu. Tuhan mempertemukan kami di Musro (music room) Hotel Quality tempat kami registrasi dan mengambil nada demi keperluan lomba yang kami ikuti hari ini.
Ada suatu hal yang membuatku memberi perhatian padanya saat dia duduk di sampingku, Tuhan memberi dia keistimewaan – seorang tunanetra. Tentu kehendak Yang Kuasa bahwa seseorang dianugerahi keterbatasan fisik dengan membuang prasangka bahwa Tuhan melindungi pandangannya dari hal-hal yang dilarang-Nya sehingga terjaga kebersihan hati dan pikirannya – Maha Suci Dia.
#… S’gala yang kulakukan S’gala yang kuinginkan takkan sirna walau harus banyak rintangan, kutahu itu tak mudah kutahu sulit kurasa pasti selalu ada pengorbanan… # Sepenggal syair lagu penghilang ‘be-te’ menunggu bus yang akan mengantarkanku ke tempat ‘Sing Competition Menuju Dunia Rekaman’.
Setibanya di Hotel Quality, aku langsung masuk ke toilet wanita yang letaknya sebelum turunan tangga menuju Musro. Di dalam, ada dua wanita yang ngobrol, aku menyapa mereka pun menyambut begitu hangatnya. “Mbak, baru dateng atau ‘udah masuk?” tanya mbak yang satu.
“Aku baru dateng, kok!” jawabku. Aku jadi terlihat cantik di hadapan cermin ini, Thank’s God … rasa pedeku seketika muncul. Sengaja kubuka jilbabku, bukankah banyak yang melakukannya? Tapi, kalau ingat, sekarang aku jadi malu! Desy Ratnasari pun melakukannya, lagian baju yang kupakai tidak terlalu terbuka! Celana panjang, atasan lengannya tiga perempat dengan potongan kerah, pas lingkar leherku. Desain bajuku simple dan sederhana tapi membuatku nyaman.
Kuperhatikan lagi wajahku di cermin mirip siapa… Nice Shooter, Sexy Shooter, atau si Smiling Girl, atau temennya Smiling Girl yang mirip Agnes Monica dan sekarang buat group yang bernama T2 itu?
Bayangan-bayangan itu datang memenuhi pelupuk mataku. Tapi, aku nggak mirip siapa-siapa, aku jadi diriku sendiri!
Sikap kehati-hatianku muncul, aku menyentuh cermin besar di hadapanku, memastikan cermin di situ bukan cermin tembus pandang. Dari ujung jariku ke bayangan cermin tidak ada jarak, berarti cermin biasa, aku lega. Tips ini aku dapatkan dari tabloid ’BI’, maklum waktu itu lagi gencar-gencarnya tentang heboh “candid camera” (kamera tersembunyi) yang bisa menyorot aurat seseorang tanpa ia sadari, salah satunya melalui cermin tembus pandang. Lagi-lagi korbannya adalah wanita terutama, khususnya para artis.
”Perasaan saya pernah ketemu, deh! Tapi dimana, ya?” tanyaku spontan pada mbak yang kaya’ bule setelah mbak yang satu keluar.
”Masa’? Saya dari Semarang, lho! Mbak, dari mana?”
”Dari Boyolali! Bener kok, tapi dimana, ya?” mencoba menelusuri jejak ingatanku, berputar-putar tanpa menemukan apapun. Aku jadi merasa membohongi diriku sendiri, padahal perasaan nggak pernah bohong. Mungkin, ini wanita istimewa yang kutemui hari ini.
“Mbak masih muda! Masih sekolah, ya? Nggak nyangka, kan saya umurnya ‘udah tigapuluhan ‘udah punya anak, anaknya saya bawa lagi!” katanya terus terang tanpa rasa malu buatku takjub.
“Lomba ini kan terbuka untuk umum! Saya ’dah nggak sekolah, nganggur cuma bantu Ibu di rumah buka warung, tapi ingin mencoba hal baru biar punya pengalaman!”
”Nasib orang, siapa tahu? … Aku duluan, ya!” pamitnya
”Sukses, ya!” teriakku.
“Thank’s! Kamu juga, kita semua menang!” sahutnya
Kulihat ada yang keluar dari kamar kecil, ternyata dia karyawati di hotel ini. Dia meletakkan tangannya di bawah sebuah alat setengah bola yang letaknya di depan kaca yang lebih kecil di sebelah lalu membenahi dandanannya sebentar seperti buru-buru. Ngobrol punya ngobrol, dia dari Jatim (Jawa Timur).
”Jauh, amat?”
”Ya, saya cari suasana lain. Cari pengalaman juga, habis mau gimana, lagi?” ia beralasannya.
”Cari pengalaman, ya… butuh pengorbanan. Pengalaman itu mahal harganya, lho!” kataku berfilosofi.
”Pengalaman guru yang terbaik!.. Aku duluan, ya?”
Aku mengangguk setuju, itu wanita istimewa kedua yang aku temui hari ini. Aku coba putar keran air, airnya macet, kucoba keran sebelah, nihil juga hasilnya.
Aku niruin mbak tadi, meletakkan tangan di bawah alat setengah bola, aku nggak merasakan apapun. Untung, aku bawa air mineral dari rumah. Dasar, kampungan! Aku baru sekarang tahu kalo itu dryer (pengering).
Agak kaget, pintu dibuka, seorang wanita berdiri di pintu, lagaknya seperti seorang security. Dia memberi kode-kode lalu ada yang masuk. Kelihatannya seorang artis? Apa dia penyanyi yang lagunya dijadikan lagu wajib untuk lomba ini? Aku menduga-duga.
Karena aku belum pake kacamataku, nggak jelas wajah mereka. Tapi aku nggak ingin tahu, buru-buru aku mberesin tasku lalu keluar. Suasana yang tadi sepi, sekarang ramai di sepanjang lorong menuju Musro. Sontak, pandangan mata tertuju padaku saat aku keluar. Dulu, ada yang bilang kalo cara jalanku, tuh bagus, jadi aku melangkah dengan gayaku dalam tatapan orang-orang sepanjang lorong. Apa mereka pikir, aku artis? Soalnya, aku ngerasa kaya’ artis aja, nih!.. Diliatin orang!…
Suasana berbeda begitu aku membuka pintu masuk Musro, semua yang di dalam serius memandang ke arah depan sana, memperhatikan yang sedang bernyanyi. Aku mencari tempat duduk dekat panggung, melewati sesosok DJ dari Radio PTPN yang menjadi salah satu koordinator acara ini, Ruly Agatha.
Namaku langsung dipanggil, aku lega berarti tidak berlama-lama menunggu untuk tampil. Sebenarnya nggak ’ngeh’ kalau namaku dipanggil dan aku harus memberi tanda, malah mencari-cari keberadaan Adlia. Ternyata ia muncul bersama temannya dalam hitungan menit, lalu duduk di deretan depanku, sedangkan aku bersama seorang teman yang usianya lebih muda dariku. Anaknya masih sekolah, hari ini minta ijin dari SMU dimana ia sekolah demi keperluan ikut lomba hari ini, dan diantar ayahnya.
Kami jadi salah tingkah ketika ada lampu sorot plus kamera ‘shooting’ mengarah ke arah kami. Panitianya gembar-gembor kalau kompetisi ini ditayangkan di TV stasiun lokal.
Aku konfirmasi ke salah seorang panitia wanita ketika mengetahui namaku dilewati. Wanita itu duduk di sebelah kiri deretan kursi peserta, santai sambil merokok dengan nikmatnya. Mungkin, rokok itu menjadi temannya saat itu? That’s not my problem, but I just wanna know what’s in her mind? What happens to her? NO, let’s forget it…!
Aku cemas belum juga tampil nyanyi, tapi aku punya waktu bersiap diri dan ketika akhirnya, giliranku nyanyi…
#… Tanpa dirimu.. oh …Tanpa hadirmu… Pelangi takkan berwarna-warni lagi …# Kubiarkan ’Smilling Girl’ hadir dalam penggalan lirik lagu yang kunyanyikan.
Kusengaja membayangkan ’Petasan Panggung’, julukan dari komentator untuk seorang artis terkenal untuk mempengaruhi gaya penampilanku. Aku tak mendengar lagi suara melalui telingaku justru kudengar dari suara mikrofon. Tidak kuhiraukan bahwa ternyata suaraku melengking setengah sampai satu tone lebih tinggi dari keynote yang aku ambil.
Sama persis dengan yang ’Komentator Tetap’ bilang kalau saat kita nyanyi di atas panggung, suaranya lebih tinggi daripada saat kita bersenandung biasa. Dan aku telah menduga, improvisasi yang aku lakukan tidak akan berhasil jika lepas pitch control. Aku lega, ada yang tepuk tangan saat menundukkan kepala sebagai tanda laguku telah selesai.
Mungkin juga aku masih bengong dengan mike-nya yang tidak bisa aku ambil sendiri dari stander-nya. Atau aku masih terpikat sesama teman seperti Adlia yang bersuara bagus? Atau mungkin aku berharap terlalu banyak tanpa menyadari, bernyanyi itu adalah memberikan sesuatu kepada orang lain dan sesuatu itu yang terbaik dari penampilanku.
Semua semangat, petuah, dan kekuatan yang membuatku hadir di kompetisi ini memenuhi ruang pikiranku. Gambaran sebuah drama ‘reality show’ kesayanganku berkibar mengawang-awang melebur kesadaranku dimana aku sekarang berada.
Selesai dengan laguku, kembali ke tempat dudukku melewati Adlia. Entah, dorongan hati atau apa, refleks mengambil tangannya. Maksud hati meminta doanya, tapi aku hanya menggumam sendiri. Kebetulan pula nama Adlia dipanggil dan sekalian pula aku mengantarkannya ke panggung, mengambilkannya mike saat aku akhirnya bisa mengambil dari standernya kemudian kuserahkan pada Adlia.
Mendengar suara Adlia, aku terbawa, sampai semua teori dari reality show kesukaanku yang hilang padahal dibutuhkan saat aku nyanyi pun muncul satu persatu. Kalau aku menyesal, tentu tak ada gunanya sekarang. Tabloid remaja yang aku beli di Ampel sebelum naik bus mencetak gambar para ’Akademia’ , si Smiling Girl bersama teman-temannya saat berlibur ke pulau Bintan menyunggingkan senyum untukku.
Aplus meriah melekatkan kesadaranku … Adlia memang terbaik. Suasana hatiku buatku jengah untuk duduk, mengingat masih banyak kerjaan di rumah memaksaku untuk segera pulang……
Penulis : Yun Widhiatmi
(Contoh Cerita Mini indosiar.com)



cerita nya biasa aja
cerita nya biasa ja kaliiiiiiiiiii
jelekkkkkkkkkk