Aku menatap langit sore yang indah tapi entah kenapa suasana itu tak sesuai dengan suasana hatiku. Karena hatiku serasa suram dan tidak ada keindahan yang aku rasakan. Dulu hari-hariku selalu merasa bahagia. Tak pernah kurasakan kesedihan dalam mengisi hari-hariku hingga pada suatu hari akhirinya, musibah datang padaku.
Sore itu seperti biasa aku pulang dari kampus. Saat itu aku sendirian karena temanku sedang ada acara. Saat lewat di pertigaan mungkin aku kurang hati-hati. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang menabrakku. Sejak saat itulah kisah hidupku berubah.
Rasanya tak pernah lagi ada suatu sinar kebahagiaan yang mengisi hari-hariku. Ditambah lagi orang yang sangat aku sayang ternyata telah mendapatkan pengganti diriku yang sudah tidak sempurna secara fisik, karena aku telah kehilangan kedua kakiku. Semua ini terasa berat bagiku, aku sering berpikir kenapa semua ini bisa terjadi padaku.
“Tuhan kenapa semua ini terjadi padaku? Aku telah kehilangan semuanya ya Tuhan. Apa yang harus hamba lakukan? Tunjukan jalanmu bagi hamba ya Tuhan,” tak terasa air mata mengalir di pipiku.
“Sabar, ya sayang. Semua ini pasti ada hikmahnya sayang,” kata Mama sambil memelukku dari belakang.
“Tapi Ma, ini sungguh tak adil.. Kenapa semuanya harus pergi pada saat yang sama ? Apa aku terlalu banyak dosa Mama ?” tanyaku pada Mama sambil menangis tersedu-sedu. Mama pun tak dapat menahan air matanya.
Sore itu aku duduk di depan rumah tiba-tiba hujan turun deras sekali. Saat itu di rumah tak ada siapa-siapa. Mama pergi bekerja dan aku hanya dirumah sendiri. Sejak di tinggal papaku beberapa tahun lalu Mama memang mencoba bangkit dengan membuka usaha butik. Aku tak tahu harus bagaimana untuk masuk ke dalam rumah. Aku tak bisa. Jadi kupikir lebih baik aku disini saja.
”Hei, kamu gila ya kok hujan-hujanan ?” teriak seseorang yang aku sendiri tak mengenal siapa cowok itu.
Dia yang menolong aku ke dalam rumah.
Tiba-tiba dia berkata, “Maaf ya, aku tadi sudah bentak kamu. Aku tak tahu kalau kamu…” Dia berhenti bicara.
“Iya, ngga apa-apa. Terima kasih ya sudah mau menolong aku,” jawabku sambil tersenyum.
Tapi saat aku menoleh ke arah cowok tadi berdiri orangnya sudah tidak ada. Aku sediri bingung kemana perginya cowok tadi. Semalaman aku masih memikirkan siapa gerangan cowok yang telah menolong aku tadi sore. Aku tidak berani cerita pada Mama, aku takut.
Keesokan harinya, karena merasa penat di dalam rumah terus, maka aku minta izin pada Mama untuk jalan-jalan sebentar dengan kursi rodaku. Ma, aku mau jalan keluar sebentar ya?” tanyaku manja
“Tapi sayang kamu kan belum sehat benar. Nanti kalau ada apa-apa, gimana sayang?” kata Mama sangat mengkhawatirkan keadaanku.
” Aku tidak akan kenapa-kenapa kok Ma. Percaya deh” Rayuku.
Dan dengan terpaksa akhirnya Mama mengizinkan aku jalan-jalan sendiri. Senangnya rasa hatiku.
Saat sedang jalan tak terasa aku sudah jauh dari rumah dan Aku tak tahu sekarang berada dimana. Aku bingung harus balik ke rumah bagaimana. Tidak ada orang di situ.
“Kenapa tadi aku tidak menuruti kata-kata mama?” tanyaku dalam hati.
“Sedang apa kamu di sini sendirian ?” suara itu mengagetkanku
“Aku lupa jalan pulang. Andaikan tadi aku menuruti kata Mama, tentu aku takkan tersesat seperti ini,” Kataku pada orang itu dan betapa kagetnya aku ternyata yang punya suara itu adalah cowok yang menolong aku kemarin.
“Ayo aku antar pulang,” dia menawarkan bantuan
” Ayo, eh tapi bolehkah aku tahu nama kamu siapa?” tanyaku
“Oh iya aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Rio, kalau kamu ?” tanyanya dengan tersenyum simpul.
” Namaku Dewi,” jawabku singkat.
Setelah sampai di rumah Mama sudah ada di depan pintu.
Tiba-tiba dia menampar Rio setelah kami berada di hadapan beliau.
Plak! Suara itu mengagetkan aku. Betapa tidak orang yang sudah baik padaku diperlakukan seperti itu oleh Mama.
“Mama! Apa yang mama lakukan? Jangan ma !” teriakku
“Buat apa kamu bela dia? Pergi kamu, pergi!” teriak Mama mengusir Rio
Rio pun langsung pergi tanpa berkata sepatah katapun.
Aku hanya bisa pasrah tak dapat melakukan apa-apa. Aku pun langsung masuk kamar menangis sejadi-jadinya.
Sudah tiga hari aku tidak makan. Mamaku bingung dia sangat mengkhawatirkan keadaanku.Tentu saja hal ini membuat Mama bingung dan khawatir.
“Sayang kamu kenapa sih ?” tanya Mama saat membujukku untuk makan
“Ngga apa-apa kok Ma,” jawabku singkat sambil mengusap air mataku yang mengalir di pipi. Aku masih sangat merasa sakit melihat Rio diusir oleh Mama.
“Mama kenapa sih jahat banget sama Rio ? Padahal dia kan sudah baik sama aku, Ma. Dia tidak pernah menyakitiku,” lalu aku ceritakan saat hujan Rio yang menolongku ke dalam rumah terus kemarin dia juga menolong aku saat aku tersesat.
Tapi kenapa mama malah menyakitinya ?” kataku sambil menangis.
Pagi ini aku diantarkan Mama pergi ke Dokter untuk melakukan general check up bulanan. Saat menunggu antrian, kami melihat Rio melintas di depan kami.
” Rio!” teriakku. Rio pun menoleh.
“Eh, Dewi? Tante ? Lagi ngapain disini?” tanya Rio terkejut.
“Ini aku lagi check up, ” jawabku semangat
“Nak Rio, tante minta maaf ya karena sudah salah paham sama kamu,” kata Mama
“Iya tante. Aku tahu waktu itu tante sangat khawatir dengan Dewi,” jawab Rio.
“Eh Tante, Dewi, aku balik dulu ya,” kata Rio
“Memang tadi habis darimana?” tanyaku.
“Humm… Dari menengok saudara,” jawabnya gugup sambil buru-buru berlalu.
Sesampainya di rumah aku masih penasaran kenapa Rio tadi tampak begitu gugup banget sewaktu melihatku dan Mama. Apakah ada sesuatu yang dia sembunyikan?
Sore itu Rio datang ke rumah.
“Dewi, itu ada Rio datang berkunjung lho,” panggil Mama
“Iya Ma, sebentar…” jawabku.
Waduh, ada apa ini denganku? Kenapa sewaktu aku dengar kata Rio jantungku berdegup kencang? Ya Tuhan, perasaan macam apa ini?” pikirku.
“Hai Rio apa kabar ?” sapaku antusias.
“Hai Dewi! Kabarku baik. Eh kamu mau ngga aku ajak jalan?” tanya Rio.
“Boleh. Tapi sebentar ya, aku ganti baju dulu,” sahutku lebih semangat menyambut ajakan Rio.
“Hati-hati, ya. Jangan sampai pulang terlambat,” kata Mama.
“Iya Ma! ” seruku dengan wajah berseri.
Baru kali ini aku merasakan sedikit bahagia. Entah kenapa aku sendiri juga tak tahu.
Waktu terus berjalan dan aku sangat menikmati kebersamaanku dengan Rio. Tapi aku tak tahu apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku atau tidak.
Tapi Beberapa hari ini Rio tak pernah menghubungiku lagi. Aku jadi khawatir jangan-jangan terjadi hal yang tidak-tidak pada Rio. Aku terus berdoa semoga Rio mendapat perlindungan-Nya dimana pun dia berada.
Suatu sore itu aku sedang duduk sendiri di depan rumah. Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiriku.
”Permisi, apakah saya bisa bertemu dengan Dewi?” sapa orang itu
“Eh iya, saya Dewi. saya sendiri Ada apa ya mbak?” tanyaku
“Ini ada titipan surat dari Rio. Saya harap kamu tidak kaget ya,” suara orang itu semakin lirih hampir tak terdengar. Aku jadi semakin bingung apa yang sebenarnya terjadi. Langsung saja kubuka surat itu:
“Dear, dewi
Dewi… sebenarnya aku ingin jujur sama kamu tapi mungkin sekarang sudah terlambat, karena mungkin saat kamu baca suratku ini aku sudah tidak ada didunia ini. Sebenarnya aku menderita penyakit kanker otak stadium akhir dan umurku sudah tidak lama lagi. Dewi, aku sayang banget sama kamu tapi aku ga berani ngungkapin isi hatiku karena aku tidak dapat membahagiakanmu, biarlah rasa ini akan aku bawa kekehidupanku yang baru. Aku minta maaf ya karena aku dah ga jujur sama kamu karena aku ga mau dikasihani oleh orang lain. Dewi sayang udah dulu ya aku udah capek, aku akan selalu cinta kamu
Peluk cium : Rio
Setelah membaca semuanya airmataku mengalir “Tuhan apalagi ini aku harus merelakan orang yang aku cintai engkau ambil sekarang aku tak tahu lagi apakah aku akan setegar dulu untuk melanjutkan perjuangan hidup ku Tuhan tolong aku” aku tak dapat menemui Rio hingga akhir hidupnya.
Setelah kepergian Rio aku berusaha untuk melanjutkan perjuangan hidupku dengan keadaan yang tak sempurna, Rio andaikan kau masih ada tentu aku kan bahagia tapi aku selalu berharap kau akan bahagia disana. aku akan selalu sayang kamu.
Penulis : Rini



ceritanya sedih bngt,bnr2 menyentuh!hiks,hiks..
dalam..bgt..
kena gw neh